Minggu, 19 Oktober 2014

JADWAL INDUK PRODUKSI

berikut adalah pembahasan sedikit mengenai JADWAL INDUK PRODUKSI yang disusun penulis dari berbagai sumber.

JADWAL INDUK PRODUKSI


A.                Perencanaan dan Pengendalian Produksi
Menurut Baroto (2004), produksi adalah suatu proses pengubahan bahan baku menjadi produk jadi. Sistem produksi adalah sekumpulan aktivitas untuk pembuatan suatu produk, dimana dalam pembuatan ini melibatkan tenaga kerja, bahan baku, mesin, energi, informasi, modal, dan tindakan manajemen. Dalam praktik, aktivitas dalam sistem produksi ini dapat dikelompokkan kedalam dua kategori, yaitu “Proses Produksi”  dan “Perencanaan dan Pengendalian Produksi (Production Planning and Control/ PPC).
Proses produksi adalah aktivitas bagaimana membuat produk jadi dari bahan baku yang melibatkan mesin, energi, pengetahuan teknis, dan lain-lain. Proses produksi merupakan tindakan nyata dan dapat dilihat. Proses produksi ini terdiri atas beberapa sub proses produksi, misalkan proses pengolahan bahan baku menjadi komponen, proses perakitan komponen menjadi sub-assembly dan proses perakitan sub-assembly menjadi produk jadi.
Perencanaan dan pengendalian produksi (PPC) adalah aktivitas bagaimana mengelola proses produksi tersebut. PPC merupakan tindakan manajemen yang sifatnya abstrak (tidak dapat dilihat secara nyata). Sistem komputer barangkali merupakan analogi yang tepat untuk sistem produksi. Proses produksi adalah perangkat kerasnya (hardware) dan PPC adalah perangkat lunaknya (software).
Bila PPC juga disebut sistem produksi, maka pengertian sistem produksi berarti ada dua, yaitu:
1.        Suatu sistem untuk membuat produk (mengubah bahan baku menjadi barang) yang melibatkan fungsi manajemen (yang bersifat abstrak) untuk merencanakan dan mengendalikan proses pembuatan tersebut.
2.        Suatu teknik untuk merencanakan dan mengendalikan produksi (bersifat abstrak) dan tidak membahas proses pembuatan produk.
B.                 Ruang Lingkup Perencanaan dan Pengendalian Produksi
Menurut Baroto (2002), perencanaan dan pengendalian produksi (PPC) pada industri manufaktur apapun akan memiliki fungsi yang sama. Fungsi atau aktivitas – aktivitas yang ditangani oleh departemen PPC atau PPIC secara umum adalah sebagai berikut :
1.        Mengelola pesanan (order) dari pelanggan. Para pelanggan memasukkan pesanan- pesanan untuk berbagai produk. Pesanan-pesanan ini dimasukkan dalam jadwal produksi utama, ini bila jenis produksinya make to order.
2.        Meramalkan permintaan. Perusahaan biasanya berusaha memproduksi secara lebih independent terhadap fluktuasi permintaan. Permintaan ini perlu diramalkan agar skenario produksi dapat mengantisipasi fluktuasi permintaan tersebut. Permintaan ini harus dilakukan bila tipe produksinya adalah make to stock.
3.        Mengelola persediaan. Tindakan pengelolaan persediaan berupa melakukan transaksi persediaan, membuat kebijakan persediaan pengaman, kebijakan kuantitas pesanan, dan mengukur performansi keuangan dari kebijakan yang dibuat.
4.        Menyusun rencana agregat (penyesuaian permintaan dengan kapasitas). Pesanan pelanggan dan atau ramalan permintaan harus dikompromikan dengan sumber daya perusahaan (fasilitas, mesin, tenaga kerja, keuangan, dan lain - lain). Rencana agregat bertujuan untuk membuat skenario pembebanan kerja untuk mesin dan tenaga kerja (reguler, lembur, dan subkontrak) secara optimal untuk keseluruhan produk dan sumber daya secara terpadu (tidak per produk).
5.        Membuat Jadwal Induk Produksi (JIP). JIP adalah suatu rencana terperinci mengenai apa dan berapa unit yang harus diproduksi pada suatu periode tertentu untuk setiap item produksi. JIP dibuat dengan cara (salah satunya) memecah (disagregat) rencana agregat ke dalam rencana produksi (apa, kapan, dan berapa) yang akan direalisasikan JIP ini apabila telah dikoordinasikan dengan seluruh departemen akan jadi dasar dalam PPC. JIP ini akan di-”review”secara periodik atau bila ada kasus. JIP ini dapat berubah bila ada hal yang harus diakomodasikan.
6.      Merencanakan kebutuhan. JIP yang telah berisi apa dan berapa yang harus dibuat selanjutnya harus diterjemahkan kedalam kebutuhan komponen,sub-assembly, dan bahan penunjang untuk penyelesaian produk. Perencanaan kebutuhan material bertujuan untuk menentukan, apa, berapa, dan kapan komponen, sub-assembly, dan bahan penunjang yang harus disiapkan. Untuk membuat perencanaan kebutuhan diperlukan informasi lain berupa struktur produk (Billof Material) dan catatan persediaan. Bila hal ini belum ada, maka tugas departemen PPC untuk membuatnya.
7.      Melakukan penjadwalan pada mesin atau fasilitas produksi. Penjadwalan ini meliputi urutan pengerjaan, waktu penyelesaian pesanan, kebutuhan waktu penyelesaian, prioritas pengerjaan, dan lain-lainnya.
8.      Monitoring dan pelaporan pembebanan kerja dibanding kapasitas produksi. Kemajuan tahap demitahap dimonitor dan dibuat laporannya untuk dianalisis. Apakah pelaksanaan sesuai rencana yang telah dibuat?
9.      Evaluasi skenario pembebanan dan kapasitas. Bila realisasi tidak sesuai rencana, maka  rencana  agregat,  JIP,  dan  penjadwalan  dapat  diubah/disesuaiakan kebutuhan. Untuk jangka panjang, evaluasi ini dapat digunakan untuk mengubah (menambah) kapasitas produksi.

C.                Berbagai Macam Sistem Produksi
Menurut Baroto (2002), semua teknik PPC / sistem produksi bertujuan untuk merencanakan dan mengendalikan produksi agar lebih efisien, efektif, produktif, atau optimal. Jumlah jenis sistem produksi sangat banyak. Suatu perusahaan kadang kala mengembangkan suatu sistem produksi secara eksklusif untuk perusahaannya dan tak dapat digunakan pada perusahaan lain,. Sistem produksi yang tepat bagi suatu industri akan sangat tergantung pada jenis industrinya.
            Beberapa jenis sistem produksi (yang dimaksud disini adalah metode perencanaan dan pengendalian produksi / PPC) yang lazim digunakan dalam perusahaan-perusahaan adalah:
1.        Sistem produksi proyek.
2.        Flexible control system.
3.        Sistem produksi “material requairement planning”.
4.        Sistem produksi “Just In Time”.
5.        “Optimized Production Technology”.
6.        “Continous Process control System”.
Menurut Baroto (2002), Jenis atau tipe produksi sangat bergantung pada jumlah produksi dan bagaimana cara memproduksi. Industri manufaktur terdiri atas banyak jenis yang berbeda satu sama lain. Jenis-jenis ini dapat dikelompokkan nerdasarkan beberapa kriteria. Berdasarkan cara pembuatan (dan masa pengerjaan) produksi dapat diklasifikasikan menjadi tipe-tipe berikut:
1.        Engineering to order (ETO), bila perusahaan melakukan rekayasa mulai penyiapan fasilitas sampai pembuatan untuk memenuhi pesanan (order). Produk yang dipesan biasanya berjumlah satu unit dan spesifikasinya sangat berbeda antara pesanan yang satu dengan yang lainnya. Disamping itu, banyak aktivitas yang terlibat dalam pembuatannya.
2.        Made to Order (MTO), bila perusahaan berproduksi (membuat) dengan fasilitas produksi yang dimiliki untuk memenuhi pesanan (order).
3.        Assembly to order (ATO), bila perusahaan memproduksi (merakit) dengan fasilitas produksi yang dimiliki untuk memenuhi pesanan (order).
4.        Made to Stock (MTS), bila produksi perusahaan tidak ditujukan untuk melayani pesanan , namun di stok untuk mengantisipasi permintaan.
Berdasarkan ukuran jumlah produk yang dihasilkan, produksi dapat dikelompokkan menjadi:
1.        Produksi proyek, biasanya jumlah unit produksi yang diproduksi satu dengan jumlah operasi banyak dan melibatkan banyak sumber daya.
2.        Produksi batch, bila jumlah unit yang diproduksi berukuran sedang, biasanya perusahaan memproduksi banyak jenis produk.
3.        Produksi massal, bila jumlah unit yang diproduksi sangat besar, jenis yang diproduksi perusahaan umumnya lebih sedikit dibanding batch.
Berdasarkan cara memproduksi (berhubungan dengan pengaturan fasilitas produksi), dikelompokkan menjadi:
1.        Produksi flow shop.
2.        Produksi fleksibel (flexible manufacturing system).
3.        Produksi Job Shop, biasanya untuk volume produksi batch.
4.        Produksi kontinu, biasanya untuk volume produksi massal.

D.                Beberapa Pertimbangan dalam Desain MPS
Menurut Gaspersz (2004), beberapa faktor utama yang harus diperhatikan untuk menentukan proses penjadwalan produksi induk (MPS). Beberapa faktor utama itu adalah:
1.        Lingkungan manufakturing
2.        Struktur produk
3.        Horizon perencanaan, waktu tunggu produk  (lead time) dan production time fences.
4.        Pemilihan item-item MPS.

E.                 Manfaat Jadwal Induk Produksi
Jadwal Induk Produksi memiliki beberapa manfaat bagi perusahaan. Beberapa manfaat Jadwal Induk produksi bagi perusahaan antara lain (Gazpers, 2004) :
1.        Menyediakan atau memberikan input utama kepada sistem perencana kebutuhan material dan kapasitas (material and capacity planning = M & CRP). M & CRP merupakan aktivitas perencanaan level 3 dalam hierarki perencanaan prioritas dan perencanaan kapasitas dalam sistem MRP II.
2.        Menjadwalkan pesanan- pesanan produksi dan pembelian (production and purchase orders) untuk item – item MPS.
3.        Memberikan landasan untuk penentuan kebuituhan sumber daya dan kapasitas
4.        Memberikan basis untuk pembuatan janji tentang penyerahan produk (delivery promise) kepada pelanggan.
F.                 Konsep Dasar Tentang Aktivitas Penjadwalan Produksi Induk
Menurut Gaspersz (2004), Aktivitas penjadwalan produksi induk (master production scheduling = MPS or master scheduling) pada dasarnya berkaitan dengan bagaimana menyusun dan memperbaharui jadwal produksi induk (master production scheduling = MPS), memproses transaksi dari MPS, memelihara catatan – catatan MPS, mengevaluasi efektivitas dari MPS, dan memberikan laporan evaluasi dalam periode waktu yang teratur untuk keperluan umpan balik dan tinjauan ulang.
Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa MPS berkaitan dengan pernyataan tentang produksi, dan bukan pernyataan tentang permintaan pasar. MPS sering didefinisikan sebagai anticipated build schedule untuk item-item yang disusun oleh perencana jadwal produksi induk (master scheduler). MPS membentuk jalinan komunikasi antara bagian pemasaran dan bagian manufakturing, sehingga seyogyanya bagian pemasaran juga mengetahui informasi yang ada dalam MPS terutama berkaitan dengan ATP (Available to Promise) agar dapat memberikan janji yang akurat kepada pelanggan.

G.                Masukan Jadwal Induk Produksi
Sebagai aktivitas proses, penjadwalan produksi (MPS) membutuhkan empat input utama. Uraian dapat dijelaskan sebagai berikut (Gaspersz, 2004):
1.        Data permintaan total, merupakan salah satu sumber data bagi proses penjadwalan produksi induk.
2.        Status inventori, berkaitan dengan informasi tentang on-hand inventory, stok yang dialokasikan untuk penggunaan tertentu (allocated stock), pesanan – pesanan produksi dan pembelian yang dikeluarkan (relesaed production and purchase order), dan firm planned orders. MPS harus mengetahui secara akurat berapa banyak inventori yang tersedia dan menetukan berapa banyak yang harus dipesan.
3.        Rencana Produksi, memberikan sekumpulan batasan kepada MPS.MPS harus menjumlahkannya umtuk menentukan tingkat produksi, inventori, dan seumber-sumber daya  lain dalam rencana produksi itu.
4.        Data perencanaan, berkaitan dengan aturan-aturan tentang lot-sizing yang harus digunakan, shrinkage factor, stok pengaman (safety stock), dan waktu tunggu (lead time) dari masing – masing item (item master file).
5.        Informasi dari RCCP, berupa kebutuhan kapasitas untuk  implementasikan MPS menjadi salah satu input bagi MPS.

H.                Metode Perencanaan Agregat
            Menurut Kusuma (1999), tujuan perencanaan agregat ialah menggunakan sumber daya manusia dan peralatan secara produktif. Penggunaan kata agregat menunjukkan perencanaan dilakukan ditingkat kasar dan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan total seluruh produk dengan menggunakan seluruh sumber daya manusia dan peralatan yang ada pada fasilitas produksi tersebut.
            Suatu jadwal induk ialah keluaran perencanaan agregat dan merupakan titik awal kebanyakan sistem pengendalian imdustri. Berikut adalah metode – metode perencanaan agregat (Kusuma, 1999) :
1.        Model Koefisien Manajemen
Suatu pendekatan untuk memodelkan keputusan manajemen dengan analisis regresi keputusan manajeman masa lalu dilakukan oleh E.H Bowman. Ia berpendapat lebih baik memperbaiki keputusan manajemen masa lalu daripada menggunakan model eksplisit solusi optimal yang baru sama sekali.
Langkah pertama yaitu menyatakan faktor keputusan dalam bentuk nilai yang dapat diamati atau diramalkan. Keputusan yang diambil akan mencakup dua hal, yaitu besarnya tenaga kerja dan tingkat/laju produksi. Pertama-tama pertimbangkan model tenaga kerja sebagai fungsi dari ramalan permintaan, tingkat sediaan, serta jumlah teanga kerja di periode sebelumnya.
Sementara itu kecepatan produksi merupakan fungsi tingkat tenaga kerja, tingkat persediaan, dan ramalan permintaan.
2.        Model Program Linier
Program linier dapat digunakan sebagai alat perencanaan agregat. Model ini dibuat karena validitas pendekatan koefisien manajemen sukar dipeetanggung jawabkan. Tujuan formulasi program linier adalah meminimasi ongkos total yang berbentuk linier terhadap kendala-kendala linier.
3.        Model Parametrik Jones
Adanya keterbatasan asumsi linearitas ongkos dalam model program linier maka dibutuhkan model lainnya yang mampu memberikan optimasi pada persamaan ongkos yang kuadratik, atau eksponensial. Untuk itu, C.H. Jones telah mengembangkan metode perencanaan produksi parametrik. Dalam menggunakan metode ini Jones menggunakan komputer untuk mencari keputusan dengan ongkos termurah. Dua keputusan yang dihasilkan ialah keputusan tentang jumlah tenaga kerja serta keputusan tentang jumlah produksi. Keputusan- keputusan tersebut diambil berdasarkan kombinasi empat parameter. Keempat parameter tersebut bernilai nol (0,0) sampai dengan satu (1,0). Gagasan Jones yaitu memeriksa kombinasi parameter tersebut, mencatat keputusan yang dibuat setelah nilai – nilai itu terpilih dan selanjutnya dengan menggunakan sebuah persamaan ongkos akan dapat dicari beebrapa kombinasi nilai parameter yang akan memberikan ongkos termurah. Kombinasi dengan ongkos terkecil dikatakan sebagai “nilai terbaik” yang dihasilkan.
Kelemahan metode ini ialah tidak mungkin untuk melakukan evaluasi atas seluruh kombinasi yang mungkin terjadi. Dengan kata lain, pendekatan Jones ini mungkin menghasilkan solusi yang cukup baik, tetapi bukannya solusi optimal.   
4.        Model Transportasi
Ketiga model perencanaan produksi agregat terdahulu memiliki karakteristik aplikatif yang cukup rumit. Ketiganya membutuhkan bantuan komputer agar hasilnya baik, Untuk kepentingan yang praktis, Biegel mengusulkan model perencanaan produksi agregat dengan menggunakan teknik Transport Shipment Problem (TSP). 
Terdapat beberapa informasi penting yang perlu diketahui sebelum menggunakan tabel tranportasi, yaitu:
a.         Hitung terlebih dahulu total permintaan seluruh produk selama horison perencanaan dalam satuan agregat dan masukkan ke dalam kolom ketiga.
b.        Hitung terlebih dahulu kapasitas yang tersedia untuk tiap pilihan produksi selama horison perencanaan dalam satuan agregat dan masukkan kedalam baris ketiga.
c.         Hitung ongkos per unit satuan agregat sebagai akibat pilihan strategi produksi yang diterapkan dan masukkan ke dalam sel – sel di tengah tabel transportasi (bagian yang diarsir).
d.        Optimasikan rencana produksi di setiap periode dalam horison perencanaan mulai dari periode paling awal sampai periode paling akhir. Usahakan mennggunakan kapasitas produksi di sel dengan ongkos produksi termurah. Sedapat mungkin seluruh permintaan harus dipenuhi tepat waktu (tanpa pembatalan pesanan / back order atau tanpa penundaaan pengiriman) karena besar kemungkinan pelanggan akan beralih menggunakan produk sejenis dari perusahaan kompetitor


DAFTAR PUSTAKA
Baroto, Teguh.  2002. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Gaspersz, Vincent. 2004. Production Planning & Inventory Control (PPIC), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kusuma, Hendra. 1999. Manajemen Produksi dan Perencanaan dan pengendalian Produksi, Andi Yogyakarta.


kk.mercubuana.ac.id/elearning/files.../16033-5-655855917101.doc‎, Diakses pada tanggal 18 Juni 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar